DIKLAT TENAGA KEPENDIDIKAN ICT

Home » Opini » IBUKU SEMANGATKU

IBUKU SEMANGATKU

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Liwati rintang untuk aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki penuh darah penuh nanah
Seperti udara kasih yang engkau berikan

Dengan apa membalas?

Ibu…..ibu………………..

 

Syair lagu Iwan Fals itu tak akan pernah aku lupa. Mengingatkanku akan ibu. Wanita yang telah melahirkan dan membesarkanku. Terbayang masa kecilku, masa-masa bahagia meski keluarga kami sangat sederhana (keluaga Umar Bakri kata Iwan Fals). Betapa besar pengorbanan yang telah ibu lakukan. Ibu rela meninggalkan dunia yang telah dicita-citakannya hanya untuk mengurusi kami berempat. Terkadang terdengar juga sedikit penyesalan dari bibirnya mengapa hal itu bisa terjadi? Ibuku awalnya seorang guru, kala itu seusia dia masih jarang sekali wanita yang menempuh pendidikan sampai ke jenjang SMA (di daerah kelahiran ibu maksudnya). Kerapkali dia bercerita bagaimana dia bersusah payah menjalaninya. Tetapi ternyata begitu tergapai apa yang dicita-citakan, dia harus memilih antara kami anak-anaknya ataukah pekerjaannya. Tapi ternyata ibu memilih kami, menjaga dan menemani kami semua tanpa merasa letih sambil bekerja membantu ayah mencari uang tambahan di rumah.

Ayahku juga seorang guru, kita semua tahu berapa sih penghasilan guru kala itu?(tidak seperti kita sekarang kan?), sementara empat anak harus mendapatkan pendidikan dengan waktu yang relatif bersamaan. Untuk mengatasi hal iti,  di rumah ayah buka jahitan, disitulah ibu dan dua orang lain membantunya. Aku teringat saat aku masuk SMP, kakak perempuanku harus masuk SMA sementara kakak laki-lakiku harus kuliah. Tetapi alhamdulillah rezeki selalu ada, Allah Maha Besar selalu memberi kemudahan bagi hambanya.  Meski dengan susah payah kami dapat melewatinya hingga kami berempat sekarang “menjadi orang” dengan modal pendidikan yang   orang tua kami berikan.

 

Aku selalu ingat ibu senantiasa mengajari aku segala hal, mulai pelajaran sekolah,agama dan ketrampilan. Sekarang ini, ibu senantiasa menjadi inspirasi bagi aku untuk menjadi guru yang lebih baik. Kebetulan dari kami berempat hanya aku yang mewarisi profesi ini, walaupun awalnya aku juga tidak menyukainya. Sungguh awalnya aku terpaksa kuliah di IKIP Surabaya (sekarang UNESA)sebab kedua kakakku dan juga teman-teman sekelasku tidak ada yang masuk IKIP, hanya aku kayaknya. Mereka lebih memilih ITS, UNAIR, UGM yang lebih menjanjikan dan membanggakan katanya. Apa sih jadi guru itu? Kata banyak orang kala itu tak terkecuali aku. Tetapi alhamdulillah berkat semangat dan dorongan kedua orang tua terutama ibu, aku bersedia mengikuti sarannya. (Maklum kala itu jika kita ambil fakultas kependidikan tidak bisa ambil non kependidikan).

Sekarang berbeda kenyataannya, aku sangat mencintai duniaku sebagai guru. Bisa dekat dengan murid-muridku sekaligus sebagai guru bagi anak-anakku. Akan tetapi masih ada satu ganjalan di hatiku kapan aku bisa menemani ibuku? Maklum ibu kini tinggal sendiri, keempat anaknya pergi mencari dunianya sendiri-sendiri. Sementara ibu sampai hari ini juga belum berkenan tinggal dengan kami, masih asyik dengan dunianya saat ini. Kami semua memaklumi, begitulah seorang ibu selalu dan selalu tak mau merepoti, padahal itu lahan bagi kami anak-anaknya untuk berbakti. Tetapi dalam hati aku selalu berharap jika suatu saat ibu memilih untuk tinggal dengan aku. Ingin aku tunjukkan balasan dan baktiku kepadanya. Ibu, sementara hanya doa yang bisa selalu aku panjatkan semoga ibu selalu diberi kesehatan dan kekuatan. Semangat ibu inspirasi dalam hidupku.

 


Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: